Beranda » Info Wisata Batu Malang Bromo » Oro-oro Dowo Malang

Oro-Oro dowo itu bahasa Jawa lama, yang artinya adalah lahan kosong, bikasanya dirumbuhi rumput. Di tempat itu pula biasanya anak-anak kecil menggembalakan kambiong atau kerbaunya. Tak jarang pula di tempat itu anak-anak kecil bermain laying-layang. Pokoknya sejauh mata memandang, maka yang Nampak hanyalah hamparan tanaman rumput belaka. Tak ada pohon beringin, mahoni, apalagi pohopn kelapa yang tumbuh ditempat itu. Di tempat itu berbagai binatang liar seperti nyambik, trenggiling, landak, luwak, rase, macan rembah, dan lain-lain berkumpul. Jadi itulah oro-oro…

Kalau lahan kosong itu tertata rapih dan ditumbuhi rumput Jepang, namanya bukan lagi oro-oro, tapi padang golf…

Sedangkan dowo itu artinya panjang, lawannya endhegh atau pendek. Lha, kalau oro-oro dowo ? itu nama sebuah jalan legendaris di kota Malang seperti halnya jl. Kajoetangan, Jl. Pegadaian, Jl. Jagalan, dan lain-lain. Maka Jl. Oro-Oro Dowo termasuk nama jalan yang sangat terkenal dimasa itu.

Lantas di mana letak oro-oronya ?

Mari kita lihat peta lama kota Malang, peta tahun 1937.

Pada tahun 1930-an, jalan itu sudah bernama Oro-Oro Dowo. Berarti jauuuuuh sebelumnya namanya juga sudah seperti itui. Dalam peta tersebut terlihat bahwa Oro-Oro Dowo merupakan jalan yang duuuowoooo bingit!

Kalau dilihat dari arah barat laut, ujung oro0oro dowo berawal dari Betek, dan berakhir pas di perbatasan Kajoetangan dan Tjelaket. Lekuk-liku oro-oro dowo hamper selalu sejajar dengan kali Brantas yang ada disebelah timurnya.

Dalam tahun 1930 an di sepanjang Oro-Oro Dowo sudah ada perumahan poenduduk, dugaan saya yang anmanya oro-oro itu yaa jalan itu sendiri.

Jadi jalan itu pada mulanya memang berupa oro-oro yang duoowooo bingit. Kalau saja kala itu oro-oronya pendek, bisa jadi nama jal;an itu adalah Oro-Oro Endeg! Namun takdir nampaknya menentukan lain, sehingga nama jalan itu sejak jaman dulu adalah memang Oro-Oro Dowo.

Lapangan Rampal bisa juga disebut oro-oro. Masa kecil saya juga sering blakraan di lapangan Rampal. Seingat saya kala itu tkak ada yang menyebut tempat itu sebagai Oro-Oro Rampal, tapi Minuran…

Gementee (Pemkot) Malang agaknya tergerak hatinya. Tempat ini harus segera ditata. Maka pada tahun 1924, dipasanglah batu-batu kali sebagai pondasi. Oro-Oro Dowo diaspal, lantas jadilah sebuah jalan.

Bersama dengan itu, bermunculanlah segala macam kegiatan manyusia, antara lain :

  • Gementee Malang mendirikan Passer Goentoer atau yang dimulut penduduk Malang lebih sering disebut dengan pasar Oro-Oro Dow. Sementara orang Belanda sendiri menyebutnya Passer Goentoer.
  • Di Jl. Oro-Oro Dowo no. 34, terdapatperusahaan pengolahan daging dan usus, namanya A. Hedel.
  • JWFSluijter, yang beralamt di Oro-Oro Dowo 4 adalah perusahaan. Besar yang menangani buku-buku import segala bidang.

Beberapa sekolahan juga dibangun di jalan ini. Antara lain:

  • K.H.I.S. met internaat
  • K.Mulo School St. Franciscus Xaverius.

Waktu terus berlalu. Dari sebuah padang rumput yang banyak dihuni nyambik, trenggiling, landak, luwak, rase dan macan rembah. Oro-Oro Dowo-pun semakin berbenah. Jalan itu dari tahun ke tahun terlihat semakin layu dan bergincu. Wajar jika kemudian banyak orang yang berpaling tempat itu.

 

 

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.