Beranda » Info Wisata Batu Malang Bromo » Klenteng Ing An Kiong

“ Dimana ada orang Tionghwa tingal,maka ditempat itu passti aka nada tanda-tanda dari kebudayaan tionghwa, baik yang sederhana maupun yang kelihatan mentereng “

Ini adalah sebuah catatan yang dibuat oleh seorang penulis bangsa Tionghwa yang tinggal di Malang pada tahun 1939. Ia menggunakan nama samara Kongkousian.

Kepala Budha

Selanjutnya Kongkousian bertutur tentang Klenteng Ing An Kiongm yang menurutnya pusat kerbudayaan bangsa Tionghwa yang tinggal di Malang. Klenteng itu didirikan pada tahun 1904, dan dulunya dikenal sangat.. ANgker.

Jauh sebelum Klenteng itu berdiri, di ujung perempatan Klentengstraat ( Sekarang Jl.Laksamana Martadinata ), sudah ada toapekong ( Patung ) Thow Tee Kong ( Malaikat Bumi ), Mengapa orang Tionghwa di Malang bisa memiliki toapekong ini ? lalu kapan patung malaikat bumi ini mulai berada disana, dan siapa yang membawanya?

Kongkousian menulis “ sayang seribu sayang, dalam sekian catatan batu yang saya lihat di dalam klenteng In Ang Kiong itu, tidak ada sepatah katapun yang menceritakan sejarah Toapekong Thow Tee Kong”.

Didalam klenteng itu jyuga terdapat patungnya Kwan Im Hudco dan Kwan Kong. Patung Kwan Im terdapat di belakang klenteng, sedangkan patung Kwan Kong terletak di ruangan sebelahnya. Di sebelahnya terdapat tempat penjualan hioswa, liliun serta perlengkapan sembahyang lainnya.

Berhadapan dengan patung Kwan Im, terdapat sebuah patung  besar. Konon itu patung seorang panglima perang yang sudah 18 turunan terus menerus menjadi jenderal perang.

Lukisan-lukisan tentang cerita Jie Sie Hauw, Sam Kok, dan lain lain juga menghiasi tembok-tembok klenteng ini. Didalam ruanagn Kwan Im terdapat sebuah lukisan yangdramatis. Di sitru menggambarkan seseorang yang membelah perutnya sendiri, lalu dari perut itu keluarlah kepala…. Sang Budha.

Itu adalah lukisan tentang murid budha yang terakhir. Sebelum menjadi muridnya Budha, orang ini adalah seorang poerampok. Namun setelah mempelajari Budha secara mendalam, ia pun berubah menjadi orang yang alim. Kendatipun demikian taka da seorangpun yang mempercayainya. Karena itulah ia membelah perutnya sendiri untuk menunjukkan bahwa sang Budha benar-benar ada dalam dirinya.

Slaloe Slamet

Sungguh, lukisan itu mengandung filosofi kehidupan yang sangat dalam maknanya.

Patung Thow Tee Kongini diyakini sebagai penguasa tetumbuhan yang ada di muka bumi. Ia juga penjaga keselamatan sawah. Lading serta tegalan. Orang-orang Tionghwasering menghubungkan Malaikat bumi ini dengan Toapekong Dapur. Yakni Cao Koen Kong. Kedua dewa tersebut sering melaporkan perbuatan manusia kepada Giok Hong Siang Tee. Untuk itulah orang-orang selalu memberikan sesaji kepada kedua dewa tersebut dengan harapan yang dilaporklan bukan yang jelek-jelek saja. Selamat dan celaka, untung dan rugi, susah dan senang, bangsa Tionghwa selalu mengingat Toapekong-Toapekong itu yang seolah-olah menjadi wakilnya Tuhan.

Orang Tionghwa punya pelindung diwaktu susah, dan mereka sangat percaya pada Ciam-Sie. Jika ia susah hatinya, atau ruwet pikirannya yang dalam perkara manusia biasa, rasanya tidak mampu ia pecahkan, maka ia pun akan dating ke klenteng, dan di tempat itulah ia mengadu pada para dewanya.

Vereeniging (perkumpulan)m Ing An Kiong, telah disyahkan oleh pemerintah dalam bersluit (surah keputusan) Cipanas 18 Juni 1904, dan didirikan untuk masa 29 tahun lamanya. Yang menjadi pimpinan perkumpulan ini adalah The Boen Kik. Ia adalah seorang leleaki Tionghwa yang fasih berbahasa Belanda. Disamping itu ia adalah pimpinan orang-orang Tinghwa yang pertama kali dalam Gemeenteraad (Dewa Kota) Malang.

Namun pada saat Kongkousian menulis laporan ini, usia perkumpulan Ing An Kiong sudah mencapai 35 tahun dan teap saja berdiri.

Ing An, artinya Slaloe Slametr, mempunya tujuan yang luhur, yaitu tetap memelihara kebudayaan Tionghwa, seperti:

  • Merawat dan memelihara toapekong
  • Emngatur sembahyang pada hari-hari besar Tionghwa misalnya Ce-soe, Ching Bing, Chio ko, dan lain sebagainya.
  • Mendirikan gedung-gedung baru, serta merawat barang0-barang dan juga tanah-tanah milik orang Tionghwa.

Menurut penuturan Kongkousia ditahun 1939, ukiran-ukiran yang ad di Klenteng Ing An Kiong itu tidak begitu indah. Di situ juga tidak ada meja sembahyang yang terbuat dari marmer. Jugfa tidak ada hiasan-hiasan lain yang menawan. Lantas Kongkousian bertanya: kapan orang Tionghwa di Malang mau menghargai tempat pemujaannya ? apakah orang-orang Tionghwa di Malang sudah terkena pengaruh kehidupan moderen?

Pada tahun 1939 ketika Kongkousian menulis laporan ini, yang menjadi pimpinan dari Klenteng Ing An Kiong ini adalah Liem Ko Hwan. Ia mengaku sangat sedikit sekali mendapat keterangan Dario Liem Ko Hwan tentang sejaran klenteng ini.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.